Mundut Tirto


Mundhut Tirta di Alaspurwo
               
Sehari sebelum Hari Raya Waisak, yaitu tanggal 5 Mei 2012, satu rombongan kecil umat Buddha Kabupaten Banyuwangi telah melaksanakan ritual Mundhut Tirta (mengambil air suci) dari tiga mata air yang berada di Alaspurwo. Air suci ini kemudian dibagikan kepada seluruh vihara yang ada di Kabupaten Banyuwangi -- yang berjumlah 19 vihara -- untuk dipercikkan kepada umat Buddha yang memohon berkah di Hari Raya Waisak. Prosesi Mundhut Tirta ini pada hakikatnya sama dengan prosesi mengambil air suci dari mata air Jlumprit yang dilakukan oleh para biku dan umat Buddha dan kemudian dibawa ke Candi Mendut di Jawa Tengah.
                Rombongan yang terdiri dari 17 orang (6 perempuan dan 11 pria) ini dipimpin oleh Mbah Parno, tokoh dan sesepuh umat Buddha Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Rombongan peziarah dari Kutorejo, yang berjumlah 12 orang, pria maupun perempuan, seluruhnya mengenakan pakaian adat Jawa (kain jarit batik), sementara peziarah dari vihara lainnya mengenakan pakaian sopan biasa.   
Berkumpul di Vihara Jati Dhammaloka, Dusun Kutorejo, sekitar pukul delapan pagi mereka berangkat membelah kawasan hutan jati dengan menggunakan dua kendaraan roda empat. Acara prosesi ritual Mundhut Tirta ini dimulai dari Situs Kawitan yang dianggap sebagai gapura dari kawasan suci Alaspurwo dimana rombongan melakukan Upacara Kula Nuwun dengan bersimpuh bersama di belakang Mbah Parno yang memanjatkan doa dalam Bahasa Jawa.
                Dari Situs Kawitan, masih menggunakan kendaraan, rombongan kemudian menuju ke Pos Penjagaan di Rowobendo dimana mereka memarkir kendaraan, dan dari sana prosesi dilanjutkan dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak sepanjang sekitar dua kilometer di dalam hutan yang dilestarikan menuju mata air Goa Istana.
Sesampai di depan mata air, sambil berdiri Mbah Parno mengucapkan doa dalam Bahasa Jawa yang dilanjutkan dengan pembacaan Parita Suci dalam Bahasa Pali oleh para peziarah dipimpin oleh Pandita Supriyono. Setelah mengisi penuh beberapa jeriken dan botol, di mata air suci tersebut para peziarah juga mensucikan diri dengan membasuh wajah, kepala, serta meneguk air dari mata air tersebut. Bahkan para peziarah perempuan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menceburkan seluruh tubuh mereka ke dalam kedung yang terletak di bawah pohon beberapa meter di bawah mata air karena meyakini bahwa air dari mata air suci tersebut bisa membuat mereka sehat dan awet muda.
                Prosesi ritual dilanjutkan dengan berdoa di dalam Goa Istana yang terletak di atas namun tak jauh dari mata air, melewati anak-anak tangga. Di dalam goa yang gelap para peziarah duduk bersimpuh di atas tikar yang sudah tersedia. Mbah Parno memanjatkan doa dalam Bahasa Jawa, dan dilanjutkan dengan pembacaan Parita Suci dalam Bahasa Pali oleh para peziarah dipimpin oleh Pandita Supriyono.
                Rombongan peziarah kemudian istirahat di mulut goa sambil menikmati bekal karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang untuk memberi kesempatan bagi peziarah yang akan tetap menjalani laku Delapan Sila dimana mulai jam 12 siang tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi makanan padat sampai keesokan harinya pukul enam pagi.           
                Untuk kali ini, warga Buddhis menjalankan prosesi Mundhut Tirta dengan mengambil air suci dari tiga mata air, selain mata iar Goa Istana, juga dari mata air Padepokan Selopenangkep (yang harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer dari Goa Istana), dan dari mata air Kucurmas (yang ditempuh dengan mendaki bukit sekitar 300 meter setelah para peziarah kembali berjalan kaki sejauh empat kilometer ke arah kendaraan karena mata air Kucurmas terletak di dalam hutan jati. Untuk prosesei Mundhut Tirta kali ini, para peziarah harus berjalan kaki sejauh sembilan atau 10 kilometer.   
                Tiga mata air suci dari mata para peziarah mengambil air berada di tengah-tengah kawasan Taman Nasional Alaspuro di Kabupaten Banyuwangi dimana masih ada satwa liar seperti burung merak, rangkok, dan banteng Jawa. Oleh karena itu rombongan peziarah juga perlu mendapatkan izin dari dua pos penjagaan TN Alaspurwo.
Mengingat Alaspurwo adalah hutan yang dianggap suci bagi para pemeluk agama-agama antroposentris di Jawa, maka bukan hanya penganut Buddha (Jawa) saja yang mengambil air suci dari mata air-mata air di Alaspurwo, namun  umat Hindu (termasuk dari Bali) maupun para penganut Agami Jawi serta penganut aliran kebatinan juga menganggapnya sebagai tempat yang suci.
                Menurut Mbah Parno yang merupakan sesepuh umat Buddha di Dusun Kutorejo (yang termasuk di dalam kawasan TN Alaspurwo), Alaspurwo bisa diibaratkan sebagai ibu bagi umat manusia, dan mata air – mata air yang ada di dalam Alaspurwo bisa diibaratkan sebagai air susu ibu (bumi) yang menghidupi umat manusia. Adapun menurut Pandita Supriyono yang mengajar Agama Buddha di Kutorejo, Buddhisme memiliki konsep yang menyakini bahwa umbul atau mata air dijaga oleh para dewa yang dalam istilah agama-agama teosentris disebut dengan malaikat. Untuk merekalah doa dipanjatkan.
Semoga semua mahluk di seluruh alam semesta, yang kecil maupun yang besar, yang dekat maupun yang jauh, yang manusia maupun yang bukan manusia, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, senantiasa berbahagia, damai, terbebas dari penderitaan dan permusuhan.   

 Dilaporkan oleh: Nusya Kuswantin, <nusyakuswantin@yahoo.com>

0 komentar:

Posting Komentar